Selasa, 05 Juni 2012

SEJARAH RAJA-RAJA JAWA




SEJARAH RAJA-RAJA JAWA
  1. Cerita kerajaan di jawa di mulai dari diketemukan prasasti yang berasal dari tahun 618 – 906, dengan tulisan pallawa dan bahasa sansekerta, diperintah oleh seorang raja ratu sima yang bijak dan keras dimana rakyat memiliki hak yang sama, seperti dia menghukum putranya sendiri karena menginjak barang yang bukan miliknya .
  2. Di desa Canggal (barat daya Magelang) ditemukan sebuah prasasti berangka tahun 732, berhuruf Pallawa dan digubah dalam bahasa Sanskerta. Isi utama menceritakan tentang peringatan didirikannya sebuah lingga (lambang Siwa) di atas sebuah bukit di daerah Kunjarakunja oleh raja Sanjaya, di sebuah pulau yang mulia bernama Yawadwipa yang kaya raya akan hasil bumi khususnya padi dan emas. Yawadwipa = Jawa,
  3. Yawadwipa mula-mula diperintah oleh raja Sanna, memerintah sangat lama, bijaksana dan berbudi halus. Lalu setelah wafat digantikan oleh Sanjaya, anak Sannaha (saudara perempuan Sanna), raja yang ahli dalam kitab-kitab suci dan keprajuritan, menciptakan ketenteraman dan kemakmuran yang dapat dinikmati rakyatnya.
  4. Di desa Dinoyo (barat laut Malang) diketemukan sebuah prasasti berangka tahun 760, berhuruf Kawi dan berbahasa Sanskerta, yang menceritakan bahwa dalam abad VIII ada kerajaan yang berpusat di Kanjuruhan raja bernama Dewasimha dan berputra Limwa (saat menjadi pengganti ayahnya bernama Gajayana), yang mendirikan sebuah tempat pemujaan untuk dewa Agastya dan diresmikan tahun 760. Upacara peresmian dilakukan oleh para pendeta ahli Weda (agama Siwa). Bangunan kuno yang saat ini masih ada di desa Kejuron adalah Candi Badut, berlanggam Jawa Tengah, sebagian masih tegak dan terdapat lingga.

Dinasti Syailendra


Wangsa Syailendra diduga berasal dari daratan Indocina (sekarang Thailand dan Kamboja). Wangsa ini bercorak Buddha Mahayana, didirikan oleh Bhanu pada tahun 752. Pada awal era Mataram Kuno, Wangsa Syailendra cukup dominan dibanding Wangsa Sanjaya. Pada masa pemerintahan raja Indra (782-812), Syailendra mengadakan ekspedisi perdagangan ke Sriwijaya. Ia juga melakukan perkawinan politik: puteranya, Samaratungga, dinikahkan dengan Dewi Tara, puteri raja Sriwijaya. Pada tahun 790, Syailendra menyerang dan mengalahkan Chenla (Kamboja), kemudian sempat berkuasa di sana selama beberapa tahun. Peninggalan terbesar Wangsa Syailendra adalah Candi Borobudur yang selesai dibangun pada masa pemerintahan raja Samaratungga (812-833).


Wangsa Sanjaya didirikan oleh Raja Sanjaya/ Rakeyan Jamri / Prabu Harisdama, cicit Wretikandayun, raja kerajaan Galuh pertama. Pada saat menjadi penguasa Kerajaan Sunda ia dikenal dengan nama Prabu Harisdarma dan kemudian setelah menguasai Kerajaan Galuh ia lebih dikenal dengan Sanjaya.

Ibu dari Sanjaya adalah Sanaha , cucu Maharani Sima dari Kalingga, di Jepara.
Ayah dari Sanjaya adalah Bratasenawa / Sena / Sanna , Raja Galuh ketiga. Sena adalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua (702-709 M). Sena di tahun 716 M dilengserkan dari tahta Galuh oleh Purbasora .
Purbasora dan Sena sebenarnya adalah saudara satu ibu, tapi lain ayah. Sena dan keluarganya menyelamatkan diri ke Pakuan, pusat kerajaan Sunda, dan meminta pertolongan pada Raja Tarusbawa. Ironis sekali, Wretikandayun, kakek Sena, sebelumnya menuntut Tarusbawa untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari Tarumanagara, sehingga kerajaan Tarumanagara terpecah dua menjadi kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh'
Di kemudian hari, Sanjaya, yang merupakan penerus Kerajaan Galuh yang sah, menyerang Galuh dengan bantuan Tarusbawa untuk melengserkan Purbasora. Setelah itu ia menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723 - 732M), sehingga bekas wilayah kekuasaan Tarumanagara dapat disatukan kembali dalam satu kerajaan, yaitu Kerajaan Sunda Galuh.
Sebagai ahli waris Kalingga, Sanjaya kemudian juga menjadi penguasa Kalingga Utara yang disebut Bumi Mataram dalam tahun 732 M. Dengan kata lain, Sanjaya adalah penguasa Sunda, Galuh dan Kalingga / Kerajaan Mataram (Hindu). Pada masa ini telah terbentuk semacam ikatan kekerabatan di antara kerajaan-kerajaan tersebut. Hal ini mempengaruhi berbagai keputusan politik pada masa-masa selanjutnya (misalnya saat penaklukan Nusantara oleh Majapahit).
Kekuasaan di Jawa Barat lalu diserahkan kepada putera Sanjaya dari Tejakencana, putri Raja Tarusbawa dari kerajaan Sunda, yaitu Tamperan atau Rakeyan Panaraban sedangkan penerus Sanjaya di Kerajaan Mataram adalah Rakai Panangkaran, putera Sanjaya dari Sudiwara, puteri Dewasinga raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara. Jadi Rakai Panangkaran dan Rakeyan Panaraban / Tamperan adalah saudara seayah tapi lain ibu.

urutan Raja Dinasti Sanjaya

Sanjaya (732-7xx)
Rakai Panangkaran
Rakai Panunggalan
Rakai Warak
Rakai Garung
Rakai Patapan (8xx-838)
Rakai Pikatan (838-855), Minikahi Putri dinasti Syailendra dan mendepak keluarga Dinasti Syailendra
Rakai Kayuwangi (855-885)
Dyah Tagwas (885)
Rakai Panumwangan Dyah Dewendra (885-887)
Rakai Gurunwangi Dyah Badra (887)
Rakai Watuhumalang (894-898)
Rakai Watukura Dyah Balitung (898-910)
Daksa (910-919)
Tulodong (919-921

Akibat bencana gunung meletus akhirnya pusat kerajaan di pindahkan


Mpu Sindok (928-929), memindahkan pusat kerajaan ke Jawa Timur (Medang)

KERAJAAN KAHURIPAN

Kahuripan


Pada tahun 1019 Airlangga di nobatkan menjadi raja oleh para pendeta Buda,Siwa dan Brahmana, mengganti Dharmawangsa . ia memerintah mulai dari daerah yang kecil karena pada saat Dharmawangsa di hancurkan, banyak daerah-daerah kekuasaanya menjadi terpecah-pecah menjadi kerajaan kecil.


Pada tahun 1028 Airlangga mulai merebut kembali daerah-daerah saat pemerintahaan Dharmawangsa yang bisa jadi juga karena makin lemahnya pengaruh Sriwijaya karena baru di serang oleh Kerajaan Colamandala ( 1023 dan 1030 ).


Airlangga di dampingi oleh Narotama/ Rakryan kanuruhan pada masa itu ibutkota pemerintahaan di pindahkan dari daerah wiwitan mas daerah jombang ke Kahuripan ( Kediri ). pada eranya kesenian tumbuh dengan suburnya antara lain, Kitab Arjuna wiwaha karangan mpu kanwa tahun 1030 berisi tentang perkawinan Arjuna dengan para bidadari sebagai hadiah dari dewa karena berhasil manaklukan raksasa yang menyerang kayangan di sini juga digambarkan adanya keterangan pewayangan muncul.


Airlangga memiliki anak perempuan bergelar Sanggramawijaya di tetapkan sebagai Mahamantri I Hino setelah tiba waktunya menggantikan Airlangga , Namun ia menolak dan memilih sebagai pertapa maka oleh Airlangga ia di buatkan pertapaan di Pucangan ( gunung penanggungan dan bergelar Kili Suci .


Untuk menghindari perebutan kekuasaan oleh 2 anak lelaki airlangga maka atas bantuan Mpu Bharada yang sakti maka wilayah kerajaan di bagi menjadi 2,

Janggala ( Singhasari ) ibukotanya Kahuripan dan Panjalu ( Kediri ) ibukotanya Daha dimana Gunung Kawi di Utara dan selatan sebagai pembatasnya.

Setelah membagi kerajaan Airlangga mundur dari kekuasaan dan menjadi pertapa dengan nama Resi Gentayu meninggal 1049 , dimakamkan di tirta lereng gunung penanggungan dan terkenal dengan nama Candi Belahan. Airlangga dianggap sebagai Dewa Wisnu dengan lencana kerajaan Garudamukha.


Setelah itu tidak ada informasi mengenai 2 kerajaan ini dan hanya kediri yang mengisi sejarah dan janggala boleh di bilang tanpa kabar.

KEDIRI

Kerajaan Kediri adalah bagian dari kerajaan Kahuripan yang lalu di bagi 2 oleh Airlangga :


di pimpin oleh :

  1. Srijayawarsa Digjaya Sastraprabu 1104, menggangap titisan wisnu sama seperti airlangga,
  2. Kameswara 1115 – 1130 , bergelar Sri Maharaja rake sirikan sri kameswara sakalabhuwanatustikarana, dengan lencana kerajaan berbentuk tengkorang bertaring yang disebut Candrakapala dan Mpu Dharmaja yang menggubah kitab Smaradahana berisi pujian-pujian terhadap raja dan kerajaan yang sangat indah dan permaisuri yang cantik bernama Sri Kirana dari jenggala.
  3. Jayabhaya 1130-1160 bergelar Sri Maharaja Sri Dharmeswara lencananya adalah narasingha dikekalkan namanya dalam kitab Bharatayudha sebuah kitab sastra di gubah oleh Mpu sedah dan diselesaikan oleh mpu panuluh kitab Hariwangsa dan Gatotkacasaraya
  4. Srngga 1190-1200 bergelar Sri Maharaja sri sarwweswara Trikramawataranindita dengan lencana kerajaan Cangka ( kerang bersayap diatas bulan sabit )
  5. Krtajaya 1200-1222 berlencana Garudamukha dan riwayat kerajaan berakhir dengan hancurnya kediri oleh Singasari dalam pertempuran di Ganter melawan Ken Arok.

Ada keterangan pada masa itu kondisi masyarakatnya di daerah kediri dan singhasari pada masa itu seperti menurut keterangan dalam Kitab Ling-Wai-Tai-Ta yang di susun Chou K’u-Fei di tahun 1178 dan kitab Chu-Fan-Chi oleh Chau-Ju-Kua di tahun 1225



  1. Orang-orang sudah memakai Kain hingga dibawah lutut,rambut diurai
  2. Rumah-rumah bersih dan rapih serta berubin warna hijau dan kuning
  3. Pertanian,peternakan dan perdagangan maju serta kerajaan penuh perhatian
  4. Tidak ada hukuman badan yang bersalah didenda Emas
  5. Pencuri atau perampok tertangkap di bunuh
  6. Alat pembayaran menggunakan uang dari emas
  7. Orang sakit bukan berobat namun menyembah dewa dan Budha
  8. Raja berpakaian Sutera dan sepatu kulit memakai emas-emasan dan rambut di sanggul
  9. Raja keluar naik Gajah dan Kereta di iringi 500- 700 prajurit dan rakyat jongkok
  10. Raja di bantu 4 menteri dan gaji dari hasil bumi
  11. Selain agama budha ada agama hindu.

KERAJAAN SINGASARI

Menurut kitab Pararaton dan Negarakertagama raja pertama bernama Sri Ranggah Rajasa Amurwabhumi atau biasa di sebut Ken Arok
Ken Arok adalah anak seorang brahmana bernama Gajah Para dengan ibu Ken Endok dari desa Pangkur, dan semula profesinya pencuri yang sakti dan selalu jadi buronan prajurit kerajaan. Atas bantuan seorang pendeta dan menjadikan seorang anak pungut sehingga bisa diterima sebagai pegawai seorang Akuwu setingkat bupati yang bernama Tunggul Ametung .
Kemudian mengambil kekuasaan tumapel dan setelah cukup pengikutnya memisahkan diri dari kerajaan kediri dan kebetulan di kediri terjadi perselisihan antara raja dan pendeta brahmana lalu para brahmana lari ke singhasari dan diterima baik dan dilindungi oleh ken arok.

Raja kertajaya berusaha menindak Ken Arok tapi dalam pertempuran di Genter pasukan kediri dapat di pukul mundur oleh prajurit Singasari maka resmilah Ken Arok menjadi Raja di Singhasari dan Kediri dengan Ibukota Kutaraja.


1227 Ken Arok di bunuh oleh Anak tirinya bernama Anusapati, anak dari Kendedes- Tunggul Ametung, Ken Dedes memiliki anak dari Ken Arok bernama Mahisa Wong Ateleng , Anusapati menggantinya sebagai Raja, untuk mengenang Ken Arok di buatlah Candi Kegenengan dalam agama suci Siwa dan Budha, untuk mengenang Ken Dedes dibuatlah Arca yang sangat Indah yaitu Arca Prajnaparamita .


Anusapati di bunuh dan di ganti oleh Tohjaya, anak dari Ken Arok - Ken Umang, Anusapati di muliakan di Candi Kidal , namun Tohjoyo hanya memerintah tidak lama karena ia juga di bunuh oleh Anak dari Anusapati yaitu Ranggawuni , ia meninggal dunia dan di muliakan di Candi Katang lumbang.

Tahun 1248 Ranggawuni naik tahta dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardhana , dan menjadi raja pertama yang namanya di kekalkan dalam prasasti dan ia memerintah bersama sepupunya yang bernama Mahisa WongCampaka anak dari Mahisa Wong Ateleng . dan bergelar Ratu Angabhaya bergelar Narasimhamurti . dan digambarkan seperti dewa wisnu dan dewa indra.
Anak Ranggawuni, Kertanegara memerintah 1254 namun ranggawuni tetap memerintah untuk anaknya terus hingga wafat 1268 di mandragiri dan di candikan di Waleri di jayaghu ( candi Jago ).
Yang menarik di candi jago karena bentuknya yang tersusun tiga seperti Limas berundak, dan tubuh candi ada di belakang kaki candi di samping candi terlihat ukiran relief dengan pahatan datar dan gambar orang seperti wayang kulit di ikuti punakawan.
Kertanegara adalah raja singhasari yang paling banyak di ketahui riwayatnya dan paling banyak peristiwanya . karena ia ingin meluaskan wilayah kekuasaanya maka ia menyingkirkan tokoh-tokoh yang dianggap menentangnya seperti Patih Arema atau Raganatha, di jadikan adhiyaksa di tumapel dan diganti Kebo Kenanga atau Aragani, Banyak Wide di tugaskan sebagai Bupati di Sungeneb ( madura ) bergelar Arya Wiraraja.
lanjutan :

Tahun 1275 kertanegara mengirimkan pasukan ke Pamalayu di sumatera tengah , berlangsung hingga 1292 dimana saat pasukan tiba kembali Kertanegara sudah tidak ada lagi namun pada prasasti alas kaki arca Amoghapasa yang di ketemukan di sungai langsat. Di terangkan dalam prasasti itu atas perintah maharajadiraja Sri Krtanegara Wikrama Dharmottunggadewa Amoghapasa beserta 13 Arca pengikutnya di pindahkan dari bhumi jawa ke swarnabhumi atas hadiah ini rakyat malayu sangat senang terutama sang raja yaitu Srimat Tribuwanaraja Maulawarmmadewa.

Dalam kitab Negarakertagama di ketahui bahwa kertanegara menaklukan Bali, Sunda,Pahang,Bakulapura ( kalimantan ), dan Gurun ( Maluku ) dengan Campa di adakan persekutuan dan di perkuat dengan perkawinan ada di prasasti Po Sah, yang menuliskan Raja Jaya Simphawarman III mempunyai 2 permaisuri yang kemungkinan saudara Kertanegara.
Pada tahun 1271, di kediri ada raja kecil bernama Jayakatwang dan bersekutu dengan Arya Wiraraja dari madura yang selalu memata-matai pergerakan Kertanegara, dengan belum kembalinya pasukan singhasari dari Sumatera dan adanya insiden dengan Ku bhilai khan dari tiongkok menjadi pertimbangan untuk jayakatwang untuk menghancurkan Singhasari .
Dalam peristiwa ini raja kertanegara terbunuh beserta sang permaisuri bajradewi dan di agungkan di candi Jawi sebagai siwa dan budha.

Urutan Raja-raja Singhasari

Ken Arok (1222-1227)
Anusapati (1227-1248)
Tohjaya (1248)
Ranggawuni (Wisnuwardhana)(1248-1254)
Kertanagara ( 1254-1292)

KERAJAAN MAJAPAHIT

Raden Wijaya adalah menantu dari kertanegara pada saat mengetahui singhasari jatuh, Reden Wijaya pergi ke Madura dan bertemu dengan Arya Wiraraja, atas saran Arya Wiraraja Raden Wijaya di minta untuk menghambakan dirinya dengan Jayakatwang dan di anugrahi tanah di desa Tarik , ada atas bantuan orang-orang madura dibukakan lahan dan menjadi tempat yang subur dan diberi nama Majapahit.

Sementara itu tentara tiongkok sebanyak 20.000 tentara dengan bekal selama 1 tahun telah mendarat di Tuban dan di angkut dengan 1000 kapal untuk melakukan balas dendam terhadap kertanegara atas penghinaannya.


Situasi ini dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk menggabungkan diri dengan tentara Tiongkok untuk menyerang balik Jayakatwang yang akhirnya jayakatwang menyerah , pada saat tentara tiongkok hendak kembali ke pelabuhan raden wijaya menyerang mereka sehingga meninggalkan banyak korban sambil terus kembali ke Tiongkok.


Dengan bantuan tentara singhasari yang baru kembali dari sumatera, Raden Wijaya menjadi raja pertama di kerajaan Majapahit dengan gelar Krtarajasa Jayawardhana (1293-1309 ) dan mempunyai 4 istri yang tertua Tribhuwana Tunggadewi, yang termuda gayatri atau yang disebut rajapatni dan dari padanyalah berlangsung raja-raja majapahit selanjutnya.


1309 Raden Wijaya wafat ia memiliki 2 orang anak perempuan dari Gayatri berjuluk Bhre Kahuripan dan Bhre Daha serta 1 anak laki dari Dara Petak yaitu Jaya Negara.


Urutan Raja Majapahit

Raden Wijaya 1293- 1309
Jaya Negara 1309-1328
Gayatri Menjadi Bhikuni maka diwakilkan oleh anaknya Bhre Kahuripan,
Bhre Kahuripan 1328 - 1360
Hayam Wuruk 1360 - 1369
Wikramawardhana 1369 - 1428
Suhita 1429 - 1447
Kertawijaya 1447-1451
Suwardhan 1451-1453
Bre Wengker/Hyang Purwawisesa 1456-1466
Bhre Pandanalas/Suraprabhawa 1466-1468
Ranawijaya/Bhatara Prabu Girindrawardhana 1474
Kertabhumi / Brawijaya 1478
Pada Pemerintahan Bhre Kahuripan ada beberapa peristiwa penting :
  1. Patih Gajah Mada bersumpah ” Sumpah Palapa” yang artinya bahwa ia tidak akan merasakan palapa jika nusantara belum bersatu di bawah Majapahit. Atau orang jawa disebut Mutih.
  2. Gajah Mada menaklukan wilayah sumatera dan menempatkan Adityawarman yang masih berhubungan darah dengan Gayatri sebagai maharaja di wilayah Pagarruyung ( Minangkabau ).
  3. Peristiwa Penting pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk :
  4. Dengan Patih Gajah Mada seluruh nusantara hingga jazirah malaka mengibarkan panji-panji Majapahit, dan berhubungan baik dengan raja siam. Dan Majapahit mangalami masa Keemasan.
  5. Di daratan jawa hanya Sunda yang belum ditaklukan meski sudah 2 kali di serang , yang di perintah Sri Baduka Maharaja yang menurut prasasti Batutulis adalah raja Pakwan Pajajaran,
  6. Pada akhirnya terjadi sebuah tipu muslihat dr Gajah Mada di mana Majapahit mangirimkan utusan ke kerajaan Pajajaran untuk menghaturkan lamaran dari Raja Hayam Wuruk yang ingin meminang Putri Raja Sunda, Dyah Pitaloka Citrasemi. Raja Kahuripan dan seluruh pengiringnya berangkat dari tanah Sunda menuju ke Wilayah Majapahit selama 10 hari dan sampai di desa bubat , Gajah Mada yang keberatan menyambut Putri tersebut menganggap bahwa Putri raja Kahuripan ini adalah ” Hadiah ” Namun dari pihak kerajaan Sunda putri tersebut akan di ” Pinang ”, sehingga timbul ketersinggungan dari kedua pihak maka terjadilah peperangan besar yang mengakibatkan terbunuhnya Raja dan Putri Dyah Pitaloka , setelah selesai perang Hayam Wuruk datang dan mendapati calon pinangannya mati dan mengakibatkan kesedihan dari Hayam Wuruk yang tak lama kemudian Hayam wuruk mangkat .
  7. Gajah Mada wafat 1384

KERAJAAN DEMAK ISLAM 


Didirikan Oleh Raden Patah atau Jin Bun pada tahun 1478 adalah putra raja Majapahit Brawijaya V. Ibunya, ada yang mengatakan keturunan Tionghoa, ada juga yang mengatakan keturunan Champa (Vietnam Selatan) yang beragama Islam.

Dalam pemerintahannya, ia banyak dibantu oleh para Walisongo yang beberapa diantaranya memiliki berkerabat dengannya melalui jalur ibu.
Pada awal abad ke-14, Kaisar Yan Lu dari dinasti Ming mengirimkan seorang Putri kepada Brawijaya di kerajaan Majapahit sebagai tanda persahabatan kedua negara. Putri yang cantik-jelita dan pintar ini segera mendapatkan tempat istimewa di hati Raja. Raja Brawijaya sangat tunduk pada semua kemauan sang puteri jelita, yang nantinya membawa banyak pertentangan dalam istana Majapahit.
Pada saat itu, Raja Brawijaya sudah memiliki permaisuri yang berasal Champa, masih kerabat Raja Champa dan memiliki julukan Ratu Ayu Kencono Wungu. Makamnya saat ini ada di Trowulan, Mojokerto. Sang permaisuri memiliki ketidak cocokan dengan putri pemberian Kaisar Yan Lu.
Akhirnya Raja Brawijaya dengan berat hati harus menyingkirkan sang Putri ini dari Majapahit. Dalam keadaan mengandung sang Putri dihibahkan oleh Raja Brawijaya kepada Adipati Palembang, Arya Sedamar. Dan disanalah Jim-Bun atau Raden Patah dilahirkan.
Dari Arya Sedamar, putri ini memiliki seorang anak laki laki. Dengan kata lain Raden Patah memiliki adik laki laki seibu, tapi berbeda ayah.
Setelah memasuki usia belasan tahun, Raden Patah, bersama adiknya, dan diantar ibunya berlayar ke Pulau Jawa untuk belajar di Ampel Denta (Ngampel Delta). Raden Patah mendarat dipelabuhan Tuban sekitar tahun 1419.
Ibunda Raden Patah setelah mangkat disemayamkan di Rembang.
Jim-Bun atau Raden Patah sempat tinggal beberapa lama di Ngampel Delta dirumah pamannya, kakak-misan ibunya, Sunan Ngampel dan juga bersama para saudagar besar muslim ketika itu.
Disana ia pula mendapat dukungan dari rekan2 utusan Kaisar Tiongkok, Panglima Cheng Ho atau juga dikenal sebagai Dampu-awang atau Sam Poo Tai-jin, seorang panglima yang berasal dari Xin Jiang dan juga pengenal Islam.
Raden Patah memiliki dua orang putra, yaitu Pangeran Sekar Seda Lepen dan Pangeran Trenggono, serta bermenantukan Pati Unus dan Fatahillah. Raden Patah meninggal tahun 1518, dan digantikan oleh menantunya Pati Unus.

Penerus Raden Patah adalah PAti Unus :


Nama aslinya Raden Abdul Qadir putra Raden Muhammad Yunus dari Jepara. Raden Muhammad Yunus adalah putra seorang Muballigh pendatang dari Parsi yang dikenal dengan sebutan Syekh Khaliqul Idrus. Muballigh dan Musafir besar ini datang dari Parsi ke tanah Jawa mendarat dan menetap di Jepara di awal 1400-an masehi. Menurut kabar Muballigh ini adalah masih dalam keturunan anak cucu Nabi Muhammad, dengan Fatimah Al Zahra.

Setelah menetap di Jepara, Syekh Khaliqul Idrus menikah dengan putri seorang Muballigh asal Gujarat yang lebih dulu datang ke tanah Jawa yaitu dari keturunan Syekh Mawlana Akbar, seorang Ulama, Muballigh dan Musafir besar asal Gujarat, India yang mempelopori dakwah diAsia Tenggara. Seorang putra beliau adalah Syekh Ibrahim Akbar yang menjadi Pelopor dakwah di tanah Campa (di delta Sungai Mekong, Kamboja) yang sekarang masih ada perkampungan Muslim. Seorang putra beliau dikirim ke tanah Jawa untuk berdakwah yang dipanggil dengan Raden Rahmat atau terkenal sebagai Sunan Ampel. Seorang adik perempuan beliau dari lain Ibu (asal Campa) ikut dibawa ke Pulau Jawa untuk ditawarkan kepada Raja Brawijaya sebagai istri untuk langkah awal meng-Islam-kan tanah Jawa.
Raja Brawijaya berkenan menikah tapi enggan terang-terangan masuk Islam. Putra yang lahir dari pernikahan ini dipanggil dengan nama Raden Patah. Setelah menjadi Raja Islam yang pertama di beri gelar Sultan Alam Akbar Al-Fattah. Disini terbukalah rahasia kenapa beliau Raden Patah diberi gelar Alam Akbar karena ibunda beliau adalah cucu Ulama Besar Gujarat Syekh Mawlana Akbar yang hampir semua keturunannya menggunakan nama Akbar seperti Ibrahim Akbar, Nurul Alam Akbar, Zainal Akbar dan banyak lagi lainnya.
Kembali ke Syekh Khaliqul Idrus, setelah menikah dengan putri Ulama Gujarat keturunan Syekh Mawlana Akbar lahirlah seorang putra beliau yang bernama Raden Muhammad Yunus yang setelah menikah dengan seorang putri pembesar Majapahit di Jepara dipanggil dengan gelar Wong Agung Jepara. Dari pernikahan ini lahirlah seorang putra yang kemudian terkenal sangat cerdas dan pemberani bernama Abdul Qadir yang setelah menjadi menantu Sultan Demak I Raden Patah diberi gelar Adipati bin Yunus atau terkenal lagi sebagai Pati Unus yang kelak setelah gugur di Malaka di kenal masyarakat dengan gelar Pangeran Sabrang Lor.

Memasuki tahun 1521, ke 375 kapal telah selesai dibangun, maka walaupun baru menjabat Sultan selama 3 tahun Pati Unus tidak sungkan meninggalkan segala kemudahan dan kehormatan dari kehidupan keraton bahkan ikut pula 2 putra beliau (yang masih sangat remaja) dari pernikahan dengan putri Raden Patah dan seorang putra lagi (yang juga masih sangat remaja) dari seorang selir dengan risiko kehilangan segalanya termasuk putus nasab keturunan, tapi sungguh Allah membalas kebaikan orang-orang yang berjuang di jalannya.


Armada perang Islam siap berangkat dari pelabuhan Demak dengan mendapat pemberkatan dari Para Wali yang dipimpin oleh Sunan Gunung Jati. Armada perang yang sangat besar untuk ukuran dulu bahkan sekarang. Dipimpin langsung oleh Pati Unus bergelar Senapati Sarjawala yang telah menjadi Sultan Demak II. Dari sini sejarah keluarga beliau akan berubah, sejarah kesultanan Demak akan berubah dan sejarah tanah Jawa akan berubah.

Armada perang Islam yang sangat besar berangkat ke Malaka dan Portugis pun sudah mempersiapkan pertahanan menyambut Armada besar ini dengan puluhan meriam besar pula yang mencuat dari benteng Malaka.

Kapal yang ditumpangi Pati Unus terkena peluru meriam ketika akan menurunkan perahu untuk merapat ke pantai. Beliau gugur sebagai Syahid karena kewajiban membela sesama Muslim yang tertindas penjajah (Portugis) yang bernafsu memonopoli perdagangan rempah-rempah.


Sebagian pasukan Islam yang berhasil mendarat kemudian bertempur dahsyat hampir 3 hari 3 malam lamanya dengan menimbulkan korban yang sangat besar di pihak Portugis, karena itu sampai sekarang Portugis tak suka mengisahkan kembali pertempuran dahsyat di tahun 1521 ini . Melalui situs keturunan Portugis di Malaka (kaum Papia Kristang) hanya terdapat kegagahan Portugis dalam mengusir armada tanah jawa (expedisi I) 1513 dan armada Johor dalam banyak pertempuran kecil.


Armada Islam gabungan tanah Jawa yang juga menderita banyak korban kemudian memutuskan mundur dibawah pimpinan Raden Hidayat, orang kedua dalam komando setelah Pati Unus gugur. Satu riwayat yang belum jelas siapa Raden Hidayat ini, kemungkinan ke-2 yang lebih kuat komando setelah Pati Unus gugur diambil alih oleh Fadhlulah Khan (Tubagus Pasai) karena sekembalinya sisa dari Armada Gabungan ini ke Pulau Jawa , Fadhlullah Khan alias Falathehan alias Fatahillah alias Tubagus Pasai-lah yang diangkat Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati sebagai Panglima Armada Gabungan yang baru menggantikan Pati Unus yang syahid di Malaka.


Kegagalan expedisi jihad yang ke II ke Malaka ini sebagian disebabkan oleh faktor - faktor internal, terutama masalah harmoni hubungan kesultanan - kesultanan Indonesia


Putra pertama dan ketiga Pati Unus ikut gugur, sedangkan putra kedua, Raden Abdullah dengan takdir Allah untuk meneruskan keturunan Pati Unus, selamat dan bergabung dengan armada yang tersisa untuk kembali ke tanah Jawa.


Turut pula dalam armada yang balik ke Jawa, sebagian tentara Kesultanan Malaka yang memutuskan hijrah ke tanah Jawa karena negerinya gagal direbut kembali dari tangan penjajah Portugis. Mereka orang Melayu Malaka ini keturunannya kemudian membantu keturunan Raden Abdullah putra Pati Unus dalam meng-Islam-kan tanah Pasundan hingga dinamai satu tempat singgah mereka dalam penaklukan itu di Jawa Barat dengan Tasikmalaya yang berarti Danau nya orang Malaya (Melayu).


Sedangkan Pati Unus, Sultan Demak II yang gugur kemudian disebut masyarakat dengan gelar Pangeran Sabrang Lor atau Pangeran (yang gugur) di seberang utara. Pimpinan Armada Gabungan Kesultanan Banten, Demak dan Cirebon segera diambil alih oleh Fadhlullah Khan yang oleh Portugis disebut Falthehan, dan belakangan disebut Fatahillah setelah mengusir Portugis dari Sunda Kelapa 1527. Di ambil alih oleh Fadhlullah Khan adalah atas inisiatif Sunan Gunung Jati yang sekaligus menjadi mertua karena putri beliau yang menjadi janda Sabrang Lor dinikahkan dengan Fadhlullah Khan.

Ketika armada Islam mendaratkan pasukan Banten di teluk Banten, Raden Abdullah diajak pula untuk turun di Banten untuk tidak melanjutkan perjalanan pulang ke Demak. Para komandan dan penasehat armada yang masih saling berkerabat satu sama lain sangat khawatir kalau Raden Abdullah akan dibunuh dalam perebutan tahta mengingat sepeninggal Pati Unus, sebagian orang di Demak merasa lebih berhak untuk mewarisi Kesultanan Demak karena Pati Unus hanya menantu Raden Patah dan keturunan Pati Unus (secara patrilineal) adalah keturunan Arab seperti keluarga Kesultanan Banten dan Cirebon, sementara Raden Patah adalah keturunan Arab hanya dari pihak Ibu sedangkan secara patrilineal (garis laki-laki terus menerus dari pihak ayah, Brawijaya) adalah murni keturunan Jawa (Majapahit).

Setelah PAti Unus pengganti Raja di Kerajaan Islam Demak adalah :


Sultan Trenggono


adalah sultan Demak (1521-1546). Ia adalah anak Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak. Sultan Trenggono berjasa atas penyebaran Islam di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di bawah Sultan Trenggono, Demak mulai menguasai daerah-daerah Jawa lainnya seperti merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran (1527), Tuban (1527), Madiun (1529), Surabaya dan Pasuruan (1527), Malang (1545), dan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di ujung timur pulau Jawa (1527, 1546).

Fatahillah, pemuda asal Pasai (Sumatera) yang menjadi menantu Raden Patah, diangkat Sultan Trenggono sebagai panglima perang Demak.
Sultan Trenggono meninggal pada tahun 1546 dalam sebuah pertempuran menaklukkan Pasuruan, dan kemudian digantikan oleh Sunan Prawoto.

Sunan Prawoto


Adalah Raja ke 4 di silsilah kerajaan Islam Demak

yang memerintah tahun 1546-1561. Nama aslinya Raden Mukmin. Ia lebih cenderung sebagai seorang ahli agama dari pada ahli politik.
Semasa muda Sunan Prawoto pernah terlibat pembunuhan terhadap pamannya sendiri. Ketika itu tahun 1521 Pangeran Sabrang Lor (sultan Demak kedua) meninggal. Karena tidak memiliki putra, Maka terjadilah perebutan takhta antara kedua adik Pangeran Sabrang Lor, yaitu Raden Trenggana dan Raden Kanduruhan.
Raden Trenggana berusia lebih tua namun tidak lahir dari permaisuri Raden Patah, sedangkan Raden Kanduruhan adalah adik kandung Pangeran Sabrang Lor dan tentu saja lahir dari permaisuri, meskipun usianya lebih muda.
Demi membantu kemenangan ayahnya (Raden Trenggana), Sunan Prawoto yang kala itu masih remaja mengutus anak buahnya untuk membunuh pamannya (Raden Kanduruhan). Usaha itu berhasil. Raden Kanduruhan tewas di tangan anak buah Sunan Prawata ketika menyeberangi sungai sepulang salat Jumat. Ia pun dikenang sebagai Pangeran Sekar Seda ing Lepen.
Raden Trenggana pun menjadi sultan ketiga Demak bergelar Sultan Trenggana. Ia memerintah sejak tahun 1521 sampai akhirnya terbunuh tahun 1546. Sunan Prawata menggantikannya sebagai penguasa Demak.

Sepeninggal Sultan Trenggana wibawa Demak merosot. Sunan Prawata lebih sibuk mengurusi masalah agama sehingga tidak mampu menjaga stabilitas politik negaranya. Banyak daerah bawahan Demak yang melepaskan diri. Dua yang terkuat adalah Jipang yang dipimpin Arya Penangsang dan Pajang yang dipimpin Hadiwijaya.

Arya Penangsang adalah putra Pangeran Sekar Seda ing Lepen. Ia mendapat dukungan dari gurunya, yaitu Sunan Kudus. Atas restu Sunan Kudus pada tahun 1561 ia mengirim anak buahnya yang bernama Rangkud untuk membelas kematian ayahnya terhadap Sunan Prawata.
Pada suatu malam Rangkud berhasil menyusup ke dalam kamar tidur Sunan Prawata. Sunan Prawata mengakui kesalahannya. Ia rela dihukum mati menebus dosa asalkan keluarganya diampuni. Rangkud bersedia. Ia lalu menikam dada Sunan Prawata yang pasrah tanpa perlawanan sampai tembus. Ternyata istri Sunan Prawata sedang berlindung di balik punggung suaminya. Akibatnya ia pun ikut tewas pula. Melihat istrinya meninggal, Sunan Prawata marah dan sempat membunuh Rangkud dengan sisa-sisa tenaganya.
Sunan Prawata tewas meninggalkan seorang putra yang masih kecil bernama Arya Pangiri, yang diasuh bibinya, yaitu Ratu Kalinyamat (putri Sultan Trenggana) dari Jepara. Ratu Kalinyamat kemudian menyerahkan takhta Demak kepada Hadiwijaya (menantu Sultan Trenggana setelah berhasil menumpas Arya Penangsang.
Sejak saat itu Demak menjadi daerah bawahan Pajang. Arya Pangiri putra Sunan Prawata setelah dewasa menjadi menantu Hadiwijaya dan diangkat sebagai bupati Demak.

Setelah Pusaka Kerajaan Demak di Pindahkan ke Kerajaan Pajang :


Kerajaan Pajang :


di pimpin oleh Joko Tingkir atau Mas Karèbèt dikenal sebagai Adipati Pajang (sekarang terletak di bagian barat daya Kota Surakarta) dan kelak menjadi Sultan Pajang dengan nama kebesaranSultan Hadiwijaya.


Riwayatnya banyak digali dari Babad Tanah Jawi. Di situ dikisahkan, Joko Tingkir merupakan pemuda dusun yang berasal dari Desa Tingkir (sekarang menjadi bagian dari Kota Salatiga), putra dari Ki Ageng Pengging atau yang lebih dikenal dengan Ki Ageng Kebo Kenongo dari daerah Pengging (sekarang dekat dengan pemandian Pengging di Boyolali). Ia melamar menjadi prajurit di Demak, yang karena kesaktiannya karirnya melejit menjadi penyeleksi prajurit baru. Setelah melalui perjuangan yang berliku, Mas Karebet menikah dengan Ratu Mas Cempa putri Sultan Trenggana yang penguasa ketiga Kesultanan Demak Bintara.


Selanjutnya, Joko Tingkir diberi kekuasaan untuk memimpin daerah Pajang semasa Demak diperintah oleh Sunan Prawoto, saudara iparnya.


Ketika Sunan Prawoto meninggal terbunuh pada tahun 1561, Arya Penangsang (cucu Raden Patah melalui Pangeran Seda Lepen) mengambil alih tampuk pemerintahan. Hal ini menimbulkan konflik karena yang berhak atas tahta adalah isteri dari Jaka Tingkir.


Jaka Tingkir yang secara politik telah kuat menyatakan diri sebagai penguasa Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Karena ambisi Arya Penangsang untuk menyingkirkan semua keturunan Raden Patah demi mengamankan tahta Demak, Joko Tingkir meminta bantuan menantunya, Sutawijaya yang putra Ki Ageng Pemanahan, untuk menyingkirkan Arya Penangsang. Permintaan ini akan disanggupi asalkan Sutawijaya diberi separuh wilayah Mentaok (di sebelah tenggara kota Yogyakarta kini) apabila berhasil dalam misinya.


Karena akhirnya berhasil, Joko Tingkir memberi hak itu kepada Sutawijaya pada tahun 1568. Demak menjadi kadipaten di bawah Pajang dengan adipati Arya Pengiri (putra Sunan Prawoto).


Kadipaten Mataram yang dibangun Sutawijaya di Hutan Mentaok berkembang pesat, bahkan lama-kelamaan menjadi sekuat Pajang hingga Sutawijaya enggan mengakui kekuasaan Pajang. Timbullah konflik antara Sultan Hadiwijaya dan Sutawijaya. Sepulang dari suatu pertemuan di Mataram, Sultan Hadiwijaya tewas terjatuh dari gajah. Maka, kesempatan ini diambil Sutawijaya untuk memaklumkan Mataram sebagai pemegang kekuasaan Peristiwa ini terjadi pada tahun 1587.


Pajang selanjutnya hanya menjadi kadipaten di bawah Mataram, dengan adipati Raden Benawa (putra Hadiwijaya yang juga ipar Sutawijaya). Berakhirlah era Pajang.

Lanjutan :

setelah itu adalah Masa Kerajaan Mataram Islam, setelah pusat kerajaan Pajang di pindahkan ke Kerajaan Mataram :


Mataram Islam,


didirikan oleh Ki Ageng Gde Pemanahan yang mulai mendirikan Pusat Pemerintahan di Daerah Kota Gede atau Pasar gede, daerah Bantul, Jogjakarta. memerintah mulai ( 1577 – 1588 ).


lalu di lanjutkan oleh : Sutawijaya ( Panembahan Senopati ) Mendirikan Kerajaan Mataram islam memerintah ( 1588 – 1601 ),


Sutawijaya Meninggal pada tahun 1601 lalu Penggantinya adalah Mas Jolang ( Prabu Hanyokrowati/pangeran seda krapyak ) memerintah ( 1601 – 1613 ) Mas jolang mempunyai kegemaran Berburu di hutan, pada suatu ketika tiba-tiba mas jolang tewas pada saat sedang berburu di hutan Krapyak, oleh karena itu di juluki PAngeran Seda Krapyak artinya( Meninggal di Hutan Krapyak )


Penggantinya adalah Adipati Martoputra ( sakit saraf di ganti oleh kakaknya Mas Rangsang ) hanya memerintah sebentar yaitu pada tahun 1613,


PEnggantinya adalah Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Hanyokrokusuma memerintah dari tahun ( 1613- 1645 ).


Penggantinya adalah Sunan Amangkurat I tidak menggunakan "Sultan" namun " Sunan " , pada masa ini banyak terjadi pemberontakan diantaranya Trunojoyo yang bersekutu dengan VOC untuk meruntuhkan Kerajaan Mataram. memerintah pada tahun ( 1647 – 1677 ).

Lanjutan :

Penggantinya Amangkurat II, yang sangat patuh kepada Belanda ( VOC ) sehingga mengakibatkan banyaknya campur tangan dari pihak belanda dan mengakibatkan Amangkurat II di benci oleh banyak anggota keluarga kerajaan dan rakyat Mataram, memerintah pada tahun ( 1647 – 1677 ),


Penggantinya Amangkurat III atau Mangkurat Mas/Mangkurat III (1703-1708), sangat di benci oleh belanda karena pada masa itu Amangkurat selalu menolak ajakan kerjasama oleh pihak Belanda sehingga Belanda sering mengganggu pemerintahannya dan pada itu Belanda Mengangkat salah satu keluarga Kerajaan sebagai Raja di Mataram yang bergelar Pakubuwono I, sehingga ada 2 Raja dalam satu kerajaan, dan akhirnya Amangkurat III ditangkap oleh belanda dan di Buang ke Ceylon atau Srilangka, dan kerajaan di serahkan kepada Pakubuwono I yang memerintah mulai tahun 1704- 1719


seterusnya pangeran Puger/Sunan Pakoeboewono I (1708-1719), lalu Mangkurat Jawi/Mangkurat IV (1719-1727), yang dilanjutkan oleh Sunan Pakoeboewono II (1727-1745) dan memindahkan karaton ke Surakarta (1745-1749). Namun saat digantikan putranya yaitu Sunan Pakoeboewono III (1749-1788), Mataram yang daerahnya sudah semakin sempit akibat kelihaian Belanda terpecah menjadi 2 (dua), yaitu satunya Surakarta tetap diperintah Sunan Pakoeboewono III, sedangkan Yogyakarta diberikan kepada pamannya sendiri yang bergelar Sultan Hamengkoeboewono I (1755-1792).

Berikut ini adalah urutan Raja-raja Kasunanan Surakarta :

Pakubuwana III (1755 )

Pakubuwana IV 1788- 1820
Pakubuwana V 1820-1823
Pakubuwana VI juga dikenal dengan nama Pangeran Bangun Tapa 1823-1830
Pakubuwana VII 1830-1858
Pakubuwana VIII 1859-1861
Pakubuwana IX 1861-1893
Pakubuwana X 1893-1939
Pakubuwana XI 1939-1944
Pakubuwana XII 1944-2004
Pakubuwana XIII raja kembar ( Hangabehi dan Tejo Wulan ) 2005- sekarang

Ada Beberapa kejadian pada masa penjajahan Belanda yang mengakibatkan Kerajaan Mataram Terbagi-bagi diantaranya :


•Putra dari pangeran Mangkunagara (salah satu putra Mangkurat IV) yaitu raden mas Said atau dikenal dengan julukan pangeran Sambernyawa, walau sangat tangguh melawan Kompeni tapi juga rasa hormat terhadap Pakoeboewono III, akhirnya bersedia bersepakat yang mana raden mas Said diberi kekuasaan serupa raja, tapi dengan beberapa pengecualian.


•Ia bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aria Mangkunagoro I dan berkedudukan di pura Mangkunegaran - Surakarta (1757-1795). Ini, merupakan hasil dari perjanjian Gianti. Sedangkan di Yogyakarta pada tahun 1812 beberapa putra Sultan, selain ada yang menggantikan dirinya menjadi Sultan Hamengkoeboewono II (1792-1812), maka salah satu putranya di tahun 1812 yang barangkali untuk sepadan dengan Surakarta diangkat dan dibentuk pura sejenis Mangkunegaran dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aria (KGPAA) Paku Alam I (1812-1828).


Lanjutan ; Urutan raja pada Pura Mangkunegara :


Mangkunegaran I , Raden Mas Said 1757- 1795

Mangkunegaran II 1796-1835
Mangkunegaran III 1835-1853
Mangkunegaran IV 1853-1881
Mangkunegaran V 1881-1896
Mangkunegaran VI 1896-1916
Mangkunegaran VII 1916-1944
Mangkunegaran VIII 1944-1987
Mangkunegaran IX 1987 – sekarang

Tulisan : Raja Jawa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar