Selasa, 24 Juni 2014

Yang terlewatkan oleh Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden:

Yang terlewatkan oleh Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden:
1.Pendadaran
Yakni tahapan pendidikan khusus pemimpin (untuk Presiden/Wakil Presiden) yang dilakukan oleh maha guru (bisa dilakukan oleh guru bangsa di masa kini)
2. Slametan Matur Tangga Kiwe Tengen
Permisi dengan tetangga kanan kiri di rumahnya dengan upacara slametan dengan mengundang tetangga kiri kanan rumah depan belakang untuk mencicipi hidangan alakadarnya sebagai tanda pamit untuk berlaga.
3. Slametan Sega Ponggol
Yaitu slametan gelar pasukan untuk membekali prajurit yang hendak berperang (berlaga dalam kampanye)
4. Matur Tiwas
Permisi kepada rekan sepadan ilmunya atau lebih tinggi ilmunya atau sepadan derajatnya atau lebih tinggi derajatnya dengan mengunjungi ke rumah mkasing-masing.
5. Slametan Gelar Perang
Slametan umum bersama tim sukses (seluruh pasukan) agar mereka kompak dalam komando serta berjuang untuk pemenangan sungguh-sungguh.
6. Slametan bersih dari duri atau musuh dalam selimut. Bersih-bersih di rumah dengan bubur abang dan bubur putih.
rg, RgBagus Warsono
.

Tentang "Matahari di balik punggung calon Raja/Presiden

Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto adalah ulama besar Indonesia saat itu di Jawa Timur, disamping seorang kiyai juga seorang guru silat olahkanuragan. Ia melihat 2 matahari diantara Kusno (Soekarno) dan Kartosuwiryo. Tak mungkin kedua matahari memimpin Nusantara ini. Sebagai orang tuayang bijak tidaklah baik untuk menghendaki keduanya bersiteru saling membunuh. Jadialah kelak dua orang seperguruan ini menjadi raja. Meski Karto Suwiryo berada dihutan-hutan, Bungkarno yang presiden RI ini tetap mengakuinya sebagai saudara dan "Raja" Indonesia dalam hutan.
Kisah tentang "matahari bersinar" juga dilihat oleh Sunan Kudus terhadap prajurit tamtama bernama Maskarebet, kenapa tidak pada putra mahkota? Atau kerabat / saudara Sultan lainnya? Inilah Indonesia sejak Daha, Kediri, Singosari, Majapahit memberikan gambaran bahwa Waris itu belum tentu Pewaris tahta. Akhirnya lambang-lambang negara Demak pun jatuh ke tangan Maskarebet anak kampung yang terkenal dengan sebutan Joko Tingkir dengan mendirikan kerajaan Pajang sebagai menerus tahta Demak.
Begitu juga Sultan Hadiwijaya ( Maskarebet/Joko Tingkir) selanjutnya , entah mengapa 'sinar matahari ' justru bersinar di punggung anak angkatnya, Sutawijaya. Sedang putra mahkota Pangeran Benawa tampak suram tanda-tandanya. Jadilah penerus tahta Pajang itu ke Mataram kepada Sutawijaya yang bergelar Senopati ing Alogo. Sekali lagi waris belum tentu pewaris. Dan ini Indonesia bukan kerajaan Inggris atau Belanda .
Bukti-bukti sejarah semua serba mungkin, bayangkan anak tukang kayu di pinggir hutan aja bisa menjadi raja, contohnya adalah Ken Angrok ! Kemudian Mas Karenet anak kampung pinggiran di Tingkir, lalu Sutawijaya semua bukan waris tapi pewaris !
Dari itu semua, bukan mustahil apabila ada anak orang miskin menjadi ''raja" (presiden ) Indonesia ini.
Dan sebetulnya diantara dua calon presiden itu , orang yang memiliki keistimewaan 'linuwih' dan 'waskita' akan dapat melihat sinar 'matahari di punggung diantara dua capres kita itu. Siapa capres yang memiliki sinar itu sebaiknya tanyakan pada yang orang yang memiliki linuih dan waskita dibidangnya.

TENTANG WAHYU KERATON YANG TERDAPAT PADA CALON PRESIDEN/RAJA

Untuk melihat tanda - tanda capres mana yang memiliki 'sinar matahari' ("wahyu keraton) itu terdapat ciri-ciri yang biasa melekat seperti :
a. Raine kadang sumorot bercahaya
b. Raine kadang berganti ganti (mirip - mirip si A atau si B, namun bukan 'mencala putra-mencala putri)
c. Ada dimana-mana secara ujug-ujug
d. Yen anggon-anggon (berpakaian keraton /resmi ) sudah mirip raja atau presiden.
e. meseme ora kepaksa
(Rg Bagus warsono)

Kamis, 05 Juni 2014

CAPRES MENUURUT RONGGOWARSITO

Menurut Rongowarsito, ada tujuh satrio piningit yang akan muncul sebagai pemimpin di wilayah seluas wilayah Kerajaan Majapahit (Nusantara): (1) Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro, yaitu pemimpin yang akrab dengan penjara, yang membebaskan bangsa Indonesia dari cengkeraman penjajah; (2) Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar; yaitu pemimpin yang kaya harta (mukti) dan berwibawa atau ditakuti, tetapi dia akan mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan; (3) Satrio Jinumput Sumelo Atur, yaitu pemimpin yang diangkat bagai dipungut; (4) Satrio Lelono Topo Ngrame, yaitu pemimpin yang suka mengembara yang memiliki tingkat religiusitas tinggi; (5) Satrio Piningit Hamong Tuwuh, yaitu pemimpin yang membawa kharisma leluhurnya; (6) Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, yaitu pemimpin yang berpindah tempat dan akan menjadi peletak dasar dasar sebagai pembuka gerbang menuju keemasan; dan (7) Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu, yaitu pemimpin yang sangat religius sehingga ia diibaratkan seorang pendeta atau Begawan yang senantiasa akan bertindak atas dasar hukum Tuhan.